Namun tekanan dan penderitaan yang ia alami tak berhenti. Pada pertengahan Juni 2025, pasca Hari Raya Idul Adha, Azwar kembali mengontak keluarga dan meminta uang tebusan sebesar Rp30–40 juta agar bisa pulang ke Indonesia. Permintaan itu kemudian diturunkan oleh pihak penyekap menjadi Rp15 juta.
Keluarga akhirnya mengirim uang sebesar Rp15 juta melalui rekening Azwar, dengan harapan ia segera dipulangkan. Namun setelah dana diterima, kontak dengan Azwar kembali terputus.
Duka semakin dalam ketika pada 13 Juni 2025, pihak KBRI di Kamboja mengabarkan bahwa Azwar telah meninggal dunia pada 10 Juni pukul 08.00 waktu setempat.
Keterangan awal menyebutkan bahwa Azwar tewas akibat jatuh dari lantai tiga sebuah gedung. Namun pihak keluarga masih menyangsikan kabar tersebut dan berharap hasil penyelidikan resmi dari otoritas Kamboja.
“Kami curiga ada yang tidak beres. Kami masih menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian Kamboja dan KBRI. Keluarga ingin tahu, benarkah Azwar loncat, atau ada unsur kekerasan,” tegas Rizal.
Lebih memilukan, jenazah Azwar hingga kini belum dipulangkan ke Indonesia. Pihak KBRI menawarkan dua opsi kepada keluarga jika ingin jenazah dipulangkan, biaya yang harus ditanggung mencapai Rp160 juta.
Keluarga berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah dan pusat, mengingat kasus ini menyangkut perdagangan manusia lintas negara yang menewaskan warga negara Indonesia.
“Harapan kami, ada kepedulian dari Pemda dan Pemprov. Warga Asahan meninggal di luar negeri karena penipuan kerja. Jangan dibiarkan begitu saja,” pungkas Rizal.
