Indeks

MBG-nomics: Dari Piring Makan ke Masa Depan Bangsa

  • Bagikan
MBG-nomics Makan Bergizi Gratis

JAKARTA (LENSAKINI) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dipahami sebagai program sosial untuk meningkatkan gizi anak, mulai dilihat memiliki dampak ekonomi yang lebih luas.

Dunia usaha menilai program ini tidak hanya menyentuh aspek kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan dan keterlibatan UMKM di daerah.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Anindya Novyan Bakrie, menyebut fenomena tersebut sebagai MBG-nomics, yakni efek ekonomi yang lahir dari operasional dapur-dapur MBG di berbagai daerah.

Ia menceritakan pengalamannya bertemu seorang pengusaha katering kecil di Jawa Tengah yang kini terlibat dalam program tersebut.

Usaha rumahan yang sebelumnya hanya melayani pesanan acara keluarga dan kegiatan kampung kini bertransformasi menjadi bagian dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Dulu, kami memasak untuk puluhan orang, sekarang untuk ribuan. Bapak, katanya kami turut berbenah,” kata pengusaha tersebut, seperti dikutip Anindya.

Dapur MBG itu kini beroperasi dengan standar lebih profesional, mulai dari pengaturan gizi, higienitas, hingga ritme produksi yang terjadwal di bawah pengawasan Badan Gizi Nasional.

Menurut Anindya, keterlibatan dunia usaha dalam program ini terus meningkat. Hingga kini anggota Kadin telah membangun lebih dari 700 dapur MBG di berbagai daerah dari target sekitar 1.000 dapur secara nasional.

Untuk membangun satu dapur dibutuhkan investasi sekitar Rp1,5 miliar, mulai dari bangunan, peralatan dapur industri, penyimpanan hingga kendaraan distribusi.

“Berarti ada lebih dari Rp1 triliun investasi riil yang mengalir dari masyarakat dan dunia usaha di berbagai daerah,” ujarnya.

  • Bagikan
Exit mobile version