Pernikahan Dini Menurun, Tapi Seks Bebas di Usia 15-19 Tahun Justru Meningkat

  • Bagikan

Jakarta – Di tengah upaya mengurangi angka pernikahan dini, sebuah fenomena yang lebih mengkhawatirkan muncul ke permukaan. Tren seks bebas di kalangan remaja Indonesia, khususnya yang berusia 15-19 tahun, justru menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Menurut data terbaru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), meskipun pernikahan dini mengalami penurunan, dengan angka pernikahan di bawah usia 20 tahun yang terus berkurang dalam satu dekade terakhir, aktivitas seksual di luar nikah di kalangan remaja justru melonjak.

Laporan BKKBN mengungkapkan bahwa 59% remaja perempuan dan 74% remaja laki-laki di rentang usia 15-19 tahun telah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan.

Penurunan pernikahan dini sebenarnya merupakan kabar baik dari sisi kesehatan reproduksi. Data menunjukkan bahwa usia pernikahan pertama pada perempuan kini bergeser dari di bawah 20 tahun ke usia rata-rata 22 tahun.

Ini sejalan dengan upaya pemerintah dan berbagai organisasi kesehatan untuk menekan angka pernikahan usia dini, yang kerap dikaitkan dengan risiko kesehatan ibu dan bayi, seperti kelahiran prematur dan kematian ibu serta bayi.

Namun, peningkatan aktivitas seksual di luar pernikahan di kalangan remaja menjadi tantangan baru. Fenomena ini menimbulkan berbagai kekhawatiran, mulai dari risiko kehamilan yang tidak diinginkan, penularan penyakit menular seksual (PMS), hingga dampak psikologis yang serius pada remaja.

Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya edukasi seksual yang komprehensif bagi remaja untuk mengatasi situasi ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa persentase pemuda yang belum menikah semakin meningkat, mencapai 68,29% pada Maret 2023.

Hal ini mencerminkan pergeseran sosial di kalangan pemuda, yang lebih memilih untuk menunda pernikahan. Namun, dengan peningkatan perilaku seksual bebas, ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat program pendidikan dan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi dan tanggung jawab seksual di kalangan remaja.

Dengan situasi ini, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat diharapkan bisa bekerja sama dalam memberikan edukasi yang tepat dan menyeluruh kepada remaja, untuk menekan angka perilaku seksual bebas dan meminimalisir dampak negatif yang bisa terjadi.

  • Bagikan