LENSAKINI – Bagi sebagian orang kuliner adalah soal rasa kan tetapi bagi masyarakat Karo, kuliner juga soal ingatan, alam, dan cara hidup. Di antara deretan masakan khas Tanah Karo yang sarat rempah dan filosofi, ada satu hidangan yang kerap mengundang rasa penasaran sekaligus perdebatan kecil di meja makan yakni kidu-kidu.
Kidu-kidu adalah olahan ulat sagu, bahan pangan tradisional yang telah lama dikenal dan dikonsumsi secara turun-temurun oleh masyarakat Karo.
Ulat ini biasanya ditemukan pada batang pohon enau atau sagu yang telah membusuk secara alami. Bagi warga setempat, keberadaan kidu-kidu bukanlah sesuatu yang asing apalagi menjijikkan.
Justru sebaliknya, Kidu-kidu ini dipandang sebagai anugerah alam yang mudah diperoleh dan bernilai gizi tinggi.
Di Tanah Karo, hubungan manusia dan alam terjalin erat, apa yang tersedia di sekitar hutan dan ladang dimanfaatkan dengan penuh pengetahuan dan kehati-hatian.
Kidu-kidu lahir dari kearifan itu tanpa proses industri, tanpa rekayasa berlebihan, bahan pangan ini langsung diolah menjadi hidangan yang mengenyangkan dan memberi tenaga, terutama bagi mereka yang bekerja di ladang atau mengikuti rangkaian kegiatan adat yang panjang.
Soal rasa, kidu-kidu sering kali mengejutkan mereka yang baru pertama mencicipinya dari teksturnya lembut dengan sensasi sedikit kenyal, sementara rasanya cenderung gurih alami.
Ketika dimasak bersama bumbu khas Karo seperti bawang, cabai, serai, lengkuas, daun jeruk, dan andaliman, aroma yang dihasilkan justru menggoda. Andaliman memberi sentuhan getir segar yang khas, membuat hidangan ini jauh dari kesan ekstrem yang sering dilekatkan padanya.
Dalam proses memasaknya, kidu-kidu dibersihkan dengan saksama lalu ditumis hingga matang sempurna sehingga sebagian orang memilih menambahkan santan agar rasanya lebih kaya dan mengikat bumbu.








