Hasil akhirnya adalah masakan sederhana namun berlapis cita rasa, paling pas disantap bersama nasi putih hangat atau nasi jagung khas Karo.
Lebih dari sekedar kuliner unik, kidu-kidu juga menyimpan nilai gizi yang tinggi dari Ulat sagu dikenal kaya akan protein dan lemak alami yang berfungsi sebagai sumber energi.
Inilah sebabnya kidu-kidu kerap hadir dalam kehidupan masyarakat pedesaan, terutama saat tenaga ekstra dibutuhkan. Jauh sebelum istilah superfood populer, masyarakat Karo telah lebih dulu memahami manfaat pangan lokal mereka.
Dalam konteks sosial dan budaya, kidu-kidu memiliki makna yang lebih dalam. Hidangan ini sering disajikan dalam acara adat, pesta keluarga, atau momen kebersamaan.
Kehadirannya menjadi simbol kedekatan manusia dengan alam dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Setiap suapan seakan membawa cerita tentang hutan, ladang, dan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan selera, kidu-kidu tetap bertahan sebagai identitas kuliner Karo. Ia mengingatkan bahwa kelezatan tidak selalu datang dari bahan yang lazim, dan bahwa kearifan lokal sering kali menyimpan jawaban atas kebutuhan pangan yang berkelanjutan.
Mencicipi kidu-kidu bukan hanya soal keberanian mencoba makanan yang berbeda. Ia adalah pengalaman mengenal cara pandang sebuah masyarakat terhadap alam, makanan, dan kehidupan itu sendiri. Sebuah eksplorasi rasa yang sekaligus menjadi perjalanan budaya.








