Penurunan pendapatan tersebut mulai berdampak pada belasan karyawan yang bekerja di Dwikora Cafe. Zers mengaku saat ini masih berusaha mempertahankan seluruh pekerjanya, namun situasi yang berlarut-larut bisa memaksa pengusaha mengambil keputusan sulit.
“Karyawan kami belasan orang. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, jujur saja berat untuk penggajian. Selama masih bisa ditutupi, kami tutupi. Tapi kalau makin turun, ancaman PHK itu nyata,” ungkapnya.
Ia menilai berhentinya tambang telah menurunkan daya beli masyarakat secara umum. Banyak pelanggan yang memilih menahan pengeluaran karena ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan.
“Sekarang orang-orang juga berpikir ulang untuk belanja. Mereka deg-degan memikirkan masa depan, takut tidak punya penghasilan lagi. Dampaknya langsung ke UMKM,” katanya.
Menurut Zers, tambang Martabe selama ini menjadi pusat perputaran ekonomi di kawasan Batang Toru.
Ketika aktivitas tersebut berhenti, efek domino langsung menghantam sektor usaha kecil, tidak hanya di Batang Toru, tetapi juga daerah sekitar seperti Padangsidimpuan dan Sibolga.
“Perputaran uang di sini paling besar ya dari tambang. Kalau itu berhenti, UMKM yang pertama kali kena,” ujarnya.
Para pelaku UMKM kini berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait keberlanjutan operasional tambang agar aktivitas ekonomi kembali bergerak dan gelombang PHK dapat dihindari.
“Kalau kondisi ini dibiarkan terlalu lama, bukan hanya karyawan tambang yang terdampak. UMKM bisa kolaps, dan PHK tidak bisa dihindari,” pungkas Zers.








