Curhatan Syawal Siregar, eks Pekerja Tambang Martabe Batangtoru: Takut Tak Mampu Bayar Uang Sekolah dan Kuliah Anak

  • Bagikan
Syawal Siregar, eks pekerja Tambang Emas Martabe Batang Toru (foto/lensakini).

TAPANULI SELATAN-Mata Syawal Siregar terlihat berkaca-kaca ketika mulai bercerita tentang nasib yang dialaminya saat ini. Bagaimana tidak, pria anak empat itu menjadi salah satu korban banjir bandang Batang Toru.

Tak hanya itu, penderitaan Syawal semakin bertambah ketika ia mengetahui kontrak kerjanya tidak diperpanjang oleh perusahaan tempat ia bekerja selama ini.

Ibarat kata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Kalimat itu layak disandang oleh Syawal Siregar, warga Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru tersebut.

Syawal memulai cerita dengan peristiwa banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu di desa tempat tinggalnya.

Saat itu, Syawal bersiap berangkat kerja sekitar pukul 05.00 WIB. Namun, air mulai naik dan ia melaporkan kondisi tersebut kepada atasannya.

Pukul 07.00 WIB, kata Syawal, air terus bertambah tinggi di dalam rumah hingga mencapai lutuh orang dewasa.
“Sempat surut sebentar. Tapi, pukul 08.30 WIB, banjir susulan datang dan merusak hampir seluruh bagian rumah. Yang tersisa hanya dapur, dua sajadah, dan sebuah Alquran” ujarnya.

Cobaan semakin bertambah bagi Syawal dan keluarganya. Sebab,
pemerintah menghentikan operasional tambang. Sebagai pekerja outsourcing, kontrak kerja Syawal berakhir pada 31 Desember dan tidak diperpanjang.

“Tidak ada pesangon yang diterima. Gaji terakhir memang masih dibayarkan, namun hingga kini belum ada kepastian terkait tunjangan hari raya (THR),” kata Syawal kepada wartawan ketika ditemui.

  • Bagikan