TAPANULI SELATAN-Hanya PT Agincurt Resorces sebagai pengelola Tambang Emas Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel) yang mampu membangun pusat riset dan edukasi penyu di Muara Upu, Tapsel.
Tak heran, Lembaga Ovata Indonesia terus mendorong PTAR agar merealisasikannya dalam waktu dekat. Berdirinya gedung pusat penelitian, edukasi, dan literasi penyu di Pantai Muara Upu menjadi impian banyak orang.
Ketua Lembaga Ovata Indonesia, Erwinsyah Siregar mengungkapkan, langkah PTAR, yang membangun sarana penangkaran penyu di Muara Upu itu merupakan fondasi awal yang sangat baik.
Hanya saja, kata Erwin, upaya konservasi perlu ditingkatkan ke tahap yang lebih strategis dan berkelanjutan. Ovata Indonesia berharap, kolaborasi tidak berhenti pada penangkaran saja. Ke depan, perlu ada gedung pusat penelitian, edukasi, dan literasi biota laut, khususnya penyu.
Pentingnya Pusat Riset Penyu Samudera Hindia mengingat Pantai Muara Upu diketahui menjadi lokasi pendaratan lima jenis penyu, di antaranya Penyu Belimbing dan Penyu Lekang, yang seluruhnya berstatus dilindungi dan masuk dalam daftar merah IUCN.
Ia menegaskan keberadaan pusat penelitian akan memperkuat kajian ilmiah mengenai pola migrasi, musim bertelur, tingkat keberhasilan penetasan, hingga ancaman ekologis yang dihadapi penyu di pesisir barat Sumatera.
“Muara Upu memiliki karakteristik pantai yang sangat ideal sebagai habitat peneluran. Ini potensi besar untuk riset jangka panjang yang bisa melibatkan akademisi, mahasiswa, dan peneliti,” katanya.
Selain riset, pusat tersebut juga diharapkan menjadi ruang edukasi bagi pelajar dan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Program literasi lingkungan dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa penyu merupakan indikator kesehatan laut.













