Data ekonomi awal tahun juga menunjukkan moderasi pertumbuhan dan perlambatan kinerja ekspor. Realisasi pendapatan negara mencapai 96,19 persen atau Rp2.756,30 triliun, dengan penyusutan penerimaan pajak 0,77 persen secara tahunan.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) turun 8,6 persen menjadi Rp534,10 triliun. Kondisi ini membuat persepsi fundamental terhadap rupiah di pasar spot belum cukup solid.
Pasar keuangan merespons kondisi domestik dengan sikap defensif. Harga rupiah di pasar offshore menunjukkan peningkatan premi risiko Indonesia di mata investor global.
Ke depan, arah rupiah sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas kebijakan fiskal serta konsistensi Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar.
Tanpa sinyal penguatan yang jelas dari sisi fiskal, ditambah volatilitas eksternal yang terus berlanjut, rupiah berpotensi tetap bergerak dalam tekanan.













