Di sisi lain, Teheran merespons cepat. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah dicapai, sekaligus membuka peluang jalur damai yang lebih luas.
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” ucap Araghchi.

“Selama periode dua minggu, perlintasan aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” tegasnya.

Lebih jauh, Iran juga mengajukan proposal 10 poin yang disebut Trump sebagai “dasar yang layak untuk negosiasi”. Dalam dua minggu ke depan, kedua pihak dijadwalkan melanjutkan perundingan, dengan Islamabad disebut sebagai lokasi potensial pembahasan lanjutan.
Meski bersifat sementara, gencatan senjata ini menjadi titik krusial dalam dinamika konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan. Pembukaan Selat Hormuz bukan sekadar syarat teknis, melainkan simbol penting bagi jalur perdagangan energi global yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi dunia.
Kini, dunia menanti apakah jeda dua minggu ini benar-benar akan menjadi pintu menuju perdamaian permanen, atau sekadar jeda sebelum babak konflik berikutnya kembali terbuka.



















