LENSAKINI – Pada era 1960-an, nama Bayer Aspirin begitu kuat di pasar obat pereda nyeri. Di layar televisi, tampil seorang penyiar dengan suara tegas, wajah serius, dan nada penuh wibawa.
penyiar membuka iklan dengan pertanyaan retoris, “Apa cara terbaik untuk menurunkan demam akibat pilek atau infeksi virus?” Jawabannya langsung mengarah pada Bayer Aspirin.
Di masa itu, kepercayaan publik dibangun melalui simbol otoritas mulia Dokter, jurnal medis, dan laboratorium menjadi alat pembuktian paling efektif.
Iklan menampilkan adegan “ilmiah” dengan tablet aspirin yang dijatuhkan ke tabung kaca berliku. Narator menjelaskan tentang aksi serpihan instan yang konon membuat obat cepat diserap tubuh.
Selama tiga puluh detik tayangan, kata Aspirin dan Bayer terus diulang agar melekat di benak penonton.
Masuk tahun 1980-an, strategi komunikasi mulai bergeser dengan konsumen menjadi lebih sadar akan kualitas dan efek samping obat.
Namun, pendekatan Bayer tetap bernada teknis dari gambar tablet berkilau memenuhi layar, disertai suara berat yang menyebutkan fitur “lapisan mikro-tipis yang dipatenkan”. Pesan utamanya masih soal keunggulan produk, bukan hubungan dengan pengguna.













