Fenomena ini tidak hanya hidup di politik dan bisnis tetapi juga dalam media dan relasi personal. Media sering membesarkan peristiwa kecil sambil menenggelamkan sebab strukturalnya.
Dalam hubungan pribadi seseorang dapat berkata jujur hanya pada bagian yang aman sambil menyembunyikan bagian lain di balik pernyataan bahwa ia tidak berbohong.
Ilmu sosial menjelaskan kondisi ini sebagai produksi ketidaktahuan yang terstruktur. Masyarakat merasa sudah cukup tahu sehingga tidak lagi menggali lebih dalam. Ketidaktahuan bukan lahir dari kekurangan data melainkan dari data yang disajikan secara selektif.
Di era digital praktik ini menjadi semakin halus. Platform tidak berbohong. Mereka hanya memilih. Konten yang memicu emosi tinggi lebih sering ditampilkan karena secara statistik menghasilkan keterlibatan lebih besar.
Kebenaran tetap ada namun dikurasi oleh sistem yang mekanismenya tidak sepenuhnya terlihat. Publik melihat hasil tanpa memahami logika di baliknya.
Akibatnya keterbukaan digital justru menciptakan ilusi transparansi. Permukaan tampak terang tetapi struktur pengambilan keputusan tetap gelap. Kebenaran berfungsi sebagai selimut yang menenangkan bukan sebagai cahaya yang menerangi.
Karena itu pertanyaan paling penting bukan lah apakah sebuah pernyataan itu benar. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa kebenaran ini yang dipilih dan siapa yang diuntungkan olehnya.
Kecerdasan kritis bukan kemampuan untuk menolak semua kebenaran melainkan kesanggupan untuk memahami bahwa kebenaran pun dapat memiliki kepentingan. Ia tidak selalu datang sebagai pencerahan. Kadang ia hadir sebagai kabut yang membuat kita merasa sudah mengerti padahal belum.
Di situlah tugas kita. Bukan menolak kebenaran tetapi mengupas lapisan yang menyelimutinya. Sampai kita sadar bahwa tidak semua yang benar membawa kita pada pemahaman.













