LENSAKINI – Suatu malam pada tahun 1974, di restoran Two Continents, Washington D.C., tiga pria duduk mengelilingi meja makan. Tidak ada konferensi pers apalagi pidato resmi. Hanya makan malam steak dan percakapan tentang ekonomi yang sedang muram.
Amerika Serikat saat itu sedang menghadapi inflasi tinggi dan pertumbuhan yang melemah. Kepercayaan publik pada pemerintah menurun dengan pertanyaan klasik kembali muncul, apakah pajak yang tinggi akan menyelamatkan negara atau justru memperparah keadaan.
Di meja itu duduk Arthur Laffer, ekonom muda lulusan Yale dan Stanford. Bersamanya ada Donald Rumsfeld dan Dick Cheney, dua tokoh politik yang kelak memegang peran penting dalam pemerintahan Amerika.
Diskusi mereka mengerucut pada satu persoalan, bagaimana hubungan antara tarif pajak dan penerimaan negara. Laffer merasa penjelasan teknis tidak akan efektif. Ia memilih cara yang jauh lebih sederhana dengan meraih serbet makan.
Dengan pena, ia menggambar dua garis sumbu yakni satu mewakili tarif pajak, satu lagi pendapatan negara. Lalu ia menarik sebuah lengkungan terbalik dan di situlah gagasan yang kemudian dikenal sebagai Laffer Curve lahir dalam bentuk visual yang sangat sederhana.
Jika tarif pajak nol persen, negara tidak mendapat apa pun dan jika tarif pajak seratus persen, orang kehilangan insentif untuk bekerja dan berinvestasi. Di antara dua titik ekstrem itu, ada satu tingkat pajak yang mampu memaksimalkan penerimaan negara.
Laffer berargumen bahwa Amerika saat itu berada di sisi kurva yang keliru. Tarif dianggap terlalu tinggi sehingga mematikan semangat usaha. Dengan menurunkan pajak, aktivitas ekonomi akan tumbuh. Basis pajak melebar dan penerimaan negara justru bisa meningkat.
Ide tersebut kemudian menjadi fondasi dari apa yang disebut ekonomi sisi penawaran. Pada era Presiden Ronald Reagan di tahun 1980-an, teori ini diterapkan secara nyata. Tarif pajak penghasilan tertinggi dipangkas drastis dari 70 persen menjadi 28 persen. Pajak korporasi juga diturunkan.













