Dampak Perang pada Ekonomi Pangan

  • Bagikan
Dampak perang pada ekonomi pangan
Perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga energi dan pupuk yang berdampak pada ekonomi pangan global serta mengancam stabilitas harga pangan di Indonesia.

LENSAKINI – Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026 bukan sekadar konflik geopolitik biasa. Dalam waktu kurang dari satu bulan, eskalasi tersebut telah merambat jauh ke sektor paling mendasar yaitu pangan global. Lonjakan harga energi, gangguan distribusi, hingga ketidakpastian pasar menjadi sinyal awal potensi krisis yang lebih luas.

Menteri Pertanian Amerika Serikat, Brook Rollins, mengungkapkan bahwa satu dari empat petani di negaranya kini kekurangan pasokan pupuk untuk musim tanam Maret hingga April. Harga pupuk urea di Pelabuhan New Orleans melonjak tajam hingga US$155 per ton dibandingkan sebelum konflik. Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Harga pupuk global bahkan telah menyentuh kisaran US$645 per ton pada akhir Maret sehingga memicu kekhawatiran akan penurunan produksi pangan.

Di saat yang sama, laporan USDA mencatat sekitar 16.000 usaha tani di Amerika Serikat tutup sepanjang 2025 sehingga menambah daftar panjang kebangkrutan sektor pertanian sejak 2018. Kondisi ini berpotensi memburuk jika tekanan biaya produksi terus meningkat.

Blokade Hormuz dan Efek Domino Global

Pusat dari guncangan ini terletak di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan hampir setengah distribusi pupuk global. Gangguan di kawasan ini mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel dan bahkan diproyeksikan bisa menyentuh US$150.

Dampaknya bersifat sistemik. Pupuk yang sangat bergantung pada gas alam ikut terdongkrak. Negara produsen utama seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman yang menyumbang sekitar 25 persen ekspor urea global ikut terdampak. Pembatasan ekspor oleh Tiongkok dan Rusia juga mempersempit pasokan dunia.

Kondisi ini mengingatkan pada krisis pangan global 2008 ketika lonjakan harga minyak berbanding lurus dengan kenaikan harga komoditas seperti gandum, beras, dan kedelai. Keterkaitan ini juga tercermin di pasar seperti Chicago Board of Trade di mana harga pangan sangat sensitif terhadap dinamika energi global.

  • Bagikan