Dampak Perang pada Ekonomi Pangan

  • Bagikan
Dampak perang pada ekonomi pangan
Perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga energi dan pupuk yang berdampak pada ekonomi pangan global serta mengancam stabilitas harga pangan di Indonesia.

Tekanan ke Indonesia: Harga Naik, Fiskal Tertekan

Bagi Indonesia, dampak paling nyata adalah kenaikan harga pangan dan tekanan terhadap anggaran negara. Dalam APBN 2026, pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk subsidi energi dan pangan. Namun asumsi harga minyak US$70 per barel kini jauh dari kondisi pasar saat ini.

Kenaikan harga energi berpotensi mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak bersubsidi maupun pupuk bersubsidi. Di sisi lain, beban fiskal akan semakin besar jika subsidi tetap dipertahankan. Kondisi ini menempatkan pemerintah pada posisi krusial antara menjaga daya beli masyarakat atau menstabilkan keuangan negara.

Di sektor pertanian, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa biaya pupuk hanya sekitar 13,74 persen dari total biaya produksi padi. Meski demikian, lonjakan harga pupuk tetap berdampak besar karena memengaruhi produktivitas dan keputusan tanam petani.

Jika konflik berkepanjangan dan pasokan pupuk global terus terganggu maka kenaikan harga pangan hampir tidak dapat dihindari. Risiko inflasi pangan, penurunan produksi, hingga peningkatan angka kemiskinan menjadi ancaman nyata.

Pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah strategis dengan memperkuat produksi pupuk dalam negeri, melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku, serta meningkatkan efisiensi distribusi. Di saat yang sama, kebijakan subsidi perlu diarahkan agar lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Perang di Timur Tengah kali ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari stabilitas energi dan geopolitik global. Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, ancaman krisis pangan bukan lagi sekadar wacana melainkan risiko nyata yang harus diantisipasi sejak dini.

  • Bagikan