LENSAKINI – Di sebuah kampung yang tenang, Abdul Rahman menjalani hari-harinya dalam kesederhanaan.
Rumah kayu yang mulai lapuk menjadi saksi usianya yang terus menua.

Setiap pagi ia duduk di beranda, menatap langit yang luas, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat.

Sejak muda, Abdul Rahman dikenal sebagai sosok saleh. Ia rajin beribadah, ringan bersedekah, dan menjaga lisannya. Bagi banyak orang, hidupnya tampak tenang.
Namun di usia senja, kegelisahan justru datang perlahan. Ia mulai mempertanyakan amalnya sendiri. Ia takut kebaikannya tercampur rasa bangga yang tak ia sadari.
Suatu malam, ia membaca kembali kitab lama yang selama ini disimpannya. Sebuah kalimat membuatnya terdiam lama.
Bahwa manusia membutuhkan ampunan Tuhan bukan hanya karena dosa, tetapi juga karena amal baik yang mungkin tidak sempurna. Hatinya bergetar. Air matanya jatuh pelan.
Sejak saat itu, Abdul Rahman berubah. Ia menjadi lebih lembut, lebih berhati-hati menilai orang lain, dan lebih sering berdoa dalam diam.
Ia tidak lagi merasa cukup dengan amalnya, melainkan menggantungkan harapan pada ampunan Tuhan.
Di usia senja, ia menemukan ketenangan yang berbeda. Bukan karena banyaknya amal, tetapi karena kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan kasih sayang Tuhan dan dari kegelisahan itu, ia belajar bahwa kerendahan hati adalah jalan menuju kedamaian.



















