LENSAKINI – Industri mode selama puluhan tahun berdiri di atas satu keyakinan besar bahwa masa depan dapat diprediksi. Para desainer editor majalah dan pengecer dituntut menentukan hari ini apa yang akan disukai konsumen berbulan bulan ke depan.
Setiap musim menjadi pertaruhan serius, ketika prediksi meleset kerugiannya nyata. Gudang penuh stok tidak terjual dan tekanan finansial tak terhindarkan.
Sejarah mencatat kegagalan pendekatan ini berulang kali. Salah satu peristiwa paling dikenal terjadi pada awal 1970 melalui apa yang kemudian disebut The Hemline Hassle.
Para penguasa selera dunia sepakat bahwa rok midi akan menggantikan rok mini. Banyak peritel besar mempertaruhkan hampir seluruh inventaris mereka pada tren tersebut.
Konsumen justru menolak. Rok midi tidak laku stok menumpuk dan kerugian besar menjadi pelajaran mahal bahwa selera manusia sulit ditebak.
Di tengah sistem yang rapuh inilah muncul Amancio Ortega Gaona pengusaha asal Spanyol dengan latar belakang hidup jauh dari kemewahan.
Ia tumbuh dalam kemiskinan. Salah satu pengalaman paling membekas terjadi saat ia berusia dua belas tahun ketika menyaksikan ibunya ditolak berutang di toko kelontong karena tidak mampu membayar. Peristiwa itu mendorong Ortega berhenti sekolah dan bekerja di industri tekstil lokal.
Dari pengalaman langsung sebagai pekerja Ortega memahami satu hal penting. Margin keuntungan ritel sangat tinggi dan sering kali mencapai delapan puluh persen.
Tingginya margin ini bukan semata karena nilai produk melainkan sebagai penyangga risiko kesalahan prediksi. Pakaian yang tidak terjual harus ditutup oleh keuntungan dari produk yang laku. Bagi Ortega kondisi ini adalah pemborosan struktural.













