Kisah lain datang dari Clemmie, sahabat Elizabeth, yang mengalami stroke parah di usia muda. Dalam masa pemulihan panjang di tengah pandemi, Clemmie tidak pernah bertanya mengapa aku. Ia memilih untuk tetap mencintai hidup, bahkan ketika tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Saat akhirnya keluar dari rumah sakit, ia mengenakan kaos bertuliskan Choose Love. Pilih cinta. Pilih hidup.
Ada pula Jonny Benjamin, yang pernah berdiri di tepi Jembatan Waterloo dengan niat mengakhiri hidupnya. Seorang asing menghentikannya dan berbicara dengan penuh empati. Percakapan sederhana itu menyelamatkan nyawanya. Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Sejak saat itu, Jonny mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang lain agar tidak menyerah.
Kadang, satu momen kecil mampu mengubah seluruh arah hidup seseorang.
Bagi Elizabeth Day, kegagalan adalah kondisi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Namun ia mengajak pembacanya bertanya lebih jauh. Rencana siapa. Siapa yang sebenarnya menulis naskah hidup yang kita kejar mati-matian.
Banyak orang merasa gagal karena tidak memenuhi ekspektasi yang bukan miliknya sendiri. Harapan orang tua, tekanan sosial, atau gambaran kebahagiaan yang dibentuk film dan media. Padahal, apa yang disebut kegagalan sering kali hanyalah cara hidup mengarahkan seseorang ke jalur yang lebih jujur.
Failosophy bukanlah buku tentang menyerah. Buku ini adalah tentang berdamai. Tentang melihat kejatuhan bukan sebagai bukti kelemahan, melainkan sebagai tanda keberanian untuk mencoba.
Clemmie dan Keputusan untuk Tetap Mencintai Hidup
Buku ini berakar dari podcast How To Fail yang diluncurkan pada 13 Juli 2018. Proyek yang berfokus pada kegagalan ini dimulai dengan menjual gaun pengantin dari pernikahan Elizabeth yang gagal untuk mendanai episode pertamanya. Ironisnya, justru inilah proyek paling sukses dalam kariernya.
Konsep podcast tersebut sederhana. Setiap pekan, seorang tamu membagikan tiga kegagalan pribadi dan pelajaran yang mereka petik darinya.
Tema yang paling sering muncul adalah perasaan gagal di usia dua puluhan. Sebuah dekade yang dipenuhi jarak antara ekspektasi dan kenyataan. Karier yang belum mapan, hubungan yang tidak stabil, serta identitas yang masih kabur. Semua itu diperparah oleh media sosial yang menciptakan ilusi bahwa semua orang lain telah berhasil.













