Ilusi Perdamaian dan Harga Sebuah Kebohongan Politik

  • Bagikan
Ilusi perdamaian dan kebohongan politik

LENSAKINI – Dalam sejarah politik dunia, kebohongan jarang bekerja sendirian. Ia hampir selalu berjalan beriringan dengan satu hal yang jauh lebih kuat dan lebih manusiawi, yaitu keinginan untuk percaya.

Bukan semata karena pelaku kebohongan terlalu cerdik, atau karena korbannya kurang cerdas, melainkan karena pada situasi tertentu, manusia memilih ilusi yang menenangkan dibanding kebenaran yang menakutkan.

Situasi inilah yang menyelimuti Eropa pada September 1938. Ingatan kolektif tentang horor Perang Dunia I masih segar. Jutaan korban jiwa, kehancuran ekonomi, dan trauma sosial membuat perang menjadi sesuatu yang ingin dihindari dengan cara apa pun.

Ketika Adolf Hitler menuntut pencaplokan wilayah Sudetenland dari Cekoslowakia, ketegangan meningkat, namun harapan akan jalan damai tetap dipelihara, terutama oleh Inggris yang merasa memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut.

Neville Chamberlain, Perdana Menteri Inggris saat itu, datang dengan keyakinan bahwa pertemuan langsung dan hubungan personal dapat meredam ambisi Hitler.

Intelijen Inggris mengetahui bahwa Jerman secara diam-diam telah memobilisasi pasukan dan hanya membutuhkan waktu agar rencana militernya matang.

Chamberlain juga memahami bahwa permintaan Hitler bukanlah tuntutan kecil, melainkan langkah strategis menuju ekspansi yang lebih luas. Namun di titik ini, ketakutan terhadap perang jauh lebih dominan dibanding kewaspadaan terhadap kebohongan.

Dalam pertemuannya dengan Hitler, Chamberlain mendengar janji tentang perdamaian. Ia menilai ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara sang kanselir, lalu menarik kesimpulan bahwa Hitler adalah sosok yang dapat dipercaya ketika telah memberikan kata-katanya.

Penilaian ini bukan lahir dari ketiadaan informasi, melainkan dari kebutuhan psikologis untuk mempertahankan keyakinan bahwa konflik besar masih bisa dicegah.

  • Bagikan