Ilusi Perdamaian dan Harga Sebuah Kebohongan Politik

  • Bagikan
Ilusi perdamaian dan kebohongan politik

Kasus ini menunjukkan bahwa kebohongan politik tingkat tinggi jarang disertai kegugupan atau ekspresi berlebihan. Ia tampil tenang, rasional, dan sering kali dibungkus oleh bahasa diplomasi yang sopan.

Bahkan, kebohongan tidak selalu hadir dalam bentuk pernyataan yang salah. Diam, penahanan informasi, atau pembiaran kesalahpahaman juga merupakan bagian dari strategi menipu yang halus namun efektif.

Penelitian Ekman tentang kebohongan memperlihatkan bahwa justru ketika emosi dikendalikan dan taruhannya besar, kebohongan menjadi semakin sulit dikenali. Politik menyediakan kondisi ideal bagi hal ini.

Tekanan publik, ketakutan kolektif, dan kebutuhan akan stabilitas membuat banyak pihak rela menerima narasi yang menenangkan meski rapuh secara moral dan faktual.

Ilusi perdamaian memang menawarkan rasa aman sementara, tetapi sejarah berulang kali menunjukkan bahwa harga kebohongan politik hampir selalu dibayar lebih mahal di kemudian hari.

Konflik yang ditunda sering kembali dengan skala yang lebih besar, dan kepercayaan yang rusak jauh lebih sulit dipulihkan dibanding kebenaran yang sejak awal diakui.

Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang berbohong, melainkan mengapa kebohongan itu diterima. Selama manusia lebih takut menghadapi kenyataan yang pahit daripada melepaskan harapan yang menenangkan, ilusi akan terus dipeluk.

  • Bagikan