Keputusan itu memicu kemarahan besar dari Menteri Keuangan Gordon Brown, rival politik utama Blair. Brown menilai PMDU sebagai upaya mengambil alih peran Treasury dalam mengawasi belanja dan kinerja kementerian. Jeremy Heywood, sekretaris pribadi Blair, bahkan menyampaikan kepada Barber bahwa Brown “kehilangan kesabaran” dan menuntut pertemuan langsung dengan Blair. Namun Blair menolak. Ia bersikeras unit tersebut harus tetap berjalan.
Di bawah kepemimpinan Michael Barber, PMDU memperkenalkan pendekatan baru yang kemudian dikenal sebagai deliverology—sebuah metode disiplin dan berbasis data untuk memantau serta mendorong kemajuan pada prioritas domestik utama seperti kesehatan, pendidikan, kejahatan, dan transportasi.
Tugas awal Barber adalah memastikan PMDU tidak dipersepsikan sebagai ancaman oleh Treasury, melainkan sebagai mitra. Demi membangun kepercayaan, ia bahkan bersedia memindahkan kantor PMDU ke gedung Treasury agar koordinasi lebih erat. Namun misi utama unit ini tetap tegas: memastikan janji reformasi pemerintah benar-benar berubah menjadi hasil nyata.
PMDU memantau kinerja seluruh kementerian. Ketika data menunjukkan sebuah departemen gagal mencapai target—ditandai dengan “lampu merah”—Barber wajib turun tangan. Ia juga menggagas priority reviews, yakni tinjauan mendalam dengan turun langsung ke lapangan untuk mendiagnosis masalah dan menawarkan solusi praktis.
Pendekatan ini terlihat jelas saat PMDU menangani krisis waktu tunggu di Unit Gawat Darurat (A&E) dan meningkatnya kejahatan jalanan. Data nasional menunjukkan sekitar 20 persen pasien harus menunggu lebih dari empat jam di UGD. Tim PMDU tidak berhenti pada laporan meja, melainkan mengunjungi langsung rumah sakit—baik yang berkinerja buruk maupun yang berkinerja baik.
Dari lapangan terungkap bahwa persoalan bukan semata kekurangan anggaran, melainkan kombinasi politik internal rumah sakit dan manajemen yang lemah. PMDU kemudian mengidentifikasi praktik terbaik berupa pendekatan layanan See and Treat, di mana pasien segera diperiksa dan ditangani tanpa proses berbelit. Barber mendorong Departemen Kesehatan untuk menerapkan sistem ini secara nasional.
Hasilnya signifikan. Pemantauan data secara real-time menunjukkan waktu tunggu menurun drastis hingga target 98 persen pasien tertangani dalam empat jam berhasil dicapai.
Di sektor transportasi, PMDU menghadapi masalah buruknya ketepatan waktu kereta api. PMDU menantang sikap pasif Departemen Transportasi dengan data yang menunjukkan bahwa perbaikan sebenarnya memungkinkan. Dalih para pejabat—bahwa mereka terlalu sibuk dan tidak banyak yang bisa dilakukan dalam jangka pendek—ditolak Barber.
Ia bahkan menghubungi Sekretaris Tetap departemen dan memperingatkan agar Menteri Transportasi tidak datang ke rapat stocktake dengan Perdana Menteri dalam kondisi “telanjang”—tanpa data dan tanpa solusi. Melalui priority review, PMDU membantu mengidentifikasi penyebab spesifik keterlambatan, seperti buruknya manajemen aset, dan menyusun rencana kerja enam bulan yang ketat bagi Network Rail.













