Meski kemacetan jalan raya tak banyak berubah, ketepatan waktu kereta api menunjukkan perbaikan nyata. Menjelang akhir masa jabatan Blair, kinerja layanan kereta api menjadi yang terbaik sejak tahun 2000.
Di bidang pendidikan, khususnya literasi dan numerasi, PMDU menggunakan target dan data untuk menjaga fokus kementerian, bahkan ketika terjadi pergantian menteri. Lewat pertemuan stocktake rutin, PMDU memaksa jajaran kementerian tetap berpegang pada target literasi dan numerasi sekolah dasar, meski godaan untuk bergeser ke agenda lain selalu muncul.
Ketika data menunjukkan kehadiran siswa stagnan, Barber dengan tegas menyatakan, “Alasan datanya tidak bergerak adalah karena Anda tidak punya strategi.” Pernyataan ini mengguncang para pejabat dan memaksa evaluasi ulang pendekatan kebijakan. Dampaknya nyata: jumlah sekolah berkinerja buruk turun drastis dari 616 menjadi 224.
Pelajaran utama dari PMDU bukan sekadar soal target dan data. Keberhasilan tidak diukur dari output—berapa anggaran dihabiskan atau apa yang telah dibeli—melainkan dari dampak nyata dan perubahan positif yang terukur.
Kunci keberhasilan Barber terletak pada kemampuannya membangun hubungan, integritas pribadi, serta pendekatan yang tegas tanpa konfrontasi. Sebuah gaya kepemimpinan yang kerap digambarkan sebagai “kepalan tangan besi dalam sarung tangan beludru yang paling lembut.”













