LENSAKINI – Di zaman ketika segala sesuatu dituntut serba cepat, ada keyakinan yang diam diam tumbuh dan jarang dipertanyakan, yakni anggapan bahwa karya besar lahir dari momen jenius yang singkat, seolah cukup satu kilatan ide lalu segalanya selesai dengan sendirinya.
Kisah tentang lagu Yesterday sering dipakai sebagai contoh paling romantis dari keyakinan itu, cerita tentang Paul McCartney yang tertidur lalu terbangun dengan melodi sempurna di kepalanya, sebuah kisah yang terdengar rapi, ajaib, dan menenangkan karena memberi harapan bahwa keindahan bisa datang tanpa proses yang melelahkan.
Namun kisah itu hanya benar pada lapisan paling luar. Melodi memang muncul saat tidur, tetapi lagu tersebut sama sekali belum menjadi Yesterday yang dikenal dunia.
Justru setelah melodi itu muncul, keraguan mengambil alih. McCartney merasa lagu tersebut terlalu indah untuk benar benar baru, ada kegelisahan bahwa nada itu mungkin hanya ingatan lama yang terselip kembali dari lagu lagu yang pernah didengar semasa kecil, sehingga alih alih merayakan temuan itu, ia memilih menahan diri dan membiarkan waktu bekerja.
Berbulan bulan kemudian lagu tersebut terus dimainkan kepada siapa saja yang ditemui, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diuji, didengarkan ulang, dan dipastikan tidak pernah ada sebelumnya.
Pada tahap itu lagu bahkan belum memiliki lirik yang sesungguhnya. Kata kata pengganti yang sengaja dibuat ringan dan konyol digunakan semata mata agar struktur lagu tidak hilang dari ingatan, sebuah cara sederhana untuk menjaga ide tetap hidup tanpa memaksanya menjadi sempurna sebelum waktunya.
Waktu terus berjalan tanpa kepastian arah akhir. Tidak ada tenggat yang memaksa. Tidak ada dorongan untuk segera selesai. Lagu itu dibiarkan mengendap, ikut berpindah bersama perjalanan dan keseharian, sampai akhirnya potongan terakhir justru muncul jauh dari piano dan studio rekaman.
Dalam suasana santai di perjalanan di Portugal, ketika pikiran tidak sedang diburu target apa pun, kata kata perlahan menemukan tempatnya dan bunyi pembuka yang tepat akhirnya muncul dengan sendirinya.













