Kenapa Pejabat Sering Pakai Istilah Susah Saat Ada Masalah?

  • Bagikan
bahasa pejabat saat krisis

Nama ini terdengar futuristik dan meyakinkan, seolah menawarkan solusi canggih untuk menjaga stabilitas dunia. Padahal secara substansi, efektivitasnya masih diperdebatkan.

Namun di situlah kekuatan bahasa bekerja. Istilah yang rumit menciptakan kesan bahwa segalanya berada dalam kendali para ahli. Publik yang tidak familiar dengan istilah tersebut cenderung merasa tidak memiliki kapasitas untuk menilai. Akhirnya, kepercayaan diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berbicara.

Logika yang sama juga dapat ditemukan dalam praktik birokrasi di Indonesia. Bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen untuk meredam reaksi.

Ketika harga bahan bakar naik, istilah yang digunakan bukan kenaikan, melainkan penyesuaian. Ketika warga ditangkap, istilah yang muncul adalah diamankan. Ketika rumah diratakan, kata yang dipilih adalah penertiban atau relokasi.

Dalam konteks pandemi, fenomena ini bahkan berkembang menjadi lebih kompleks. Alih alih menggunakan istilah yang sederhana dan mudah dipahami, publik justru dihadapkan pada berbagai singkatan yang berubah dalam waktu singkat. PSBB, PPKM, hingga berbagai variasinya menjadi bagian dari keseharian, meskipun banyak orang tidak sepenuhnya memahami perbedaan di antara kebijakan tersebut.

Akibatnya, perhatian publik sering kali terpecah. Alih alih memahami substansi kebijakan, energi justru habis untuk menghafal istilah yang terus berganti. Pertanyaan paling mendasar menjadi sederhana. Apakah hari ini boleh keluar rumah atau tidak.

Di sektor ekonomi dan korporasi, pola serupa juga terlihat jelas. Istilah asing seperti refocusing, rightsizing, atau efficiency alignment digunakan untuk menjelaskan keputusan yang berdampak langsung pada kehidupan banyak orang. Di balik istilah tersebut, realitasnya tetap sama. Ada orang yang kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.

Bahasa dalam konteks ini berfungsi sebagai peredam. Ia mengurangi ketajaman realitas tanpa benar benar mengubah kenyataan itu sendiri. Keputusan yang keras terasa lebih dapat diterima karena dibungkus dengan istilah yang terdengar profesional dan terukur.

Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa penggunaan istilah rumit bukan sekadar kebiasaan, melainkan strategi komunikasi. Bahasa dipilih bukan hanya untuk menjelaskan, tetapi juga untuk membentuk cara publik memahami situasi.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana. Apakah bahasa tersebut membantu menjernihkan persoalan, atau justru mengaburkannya.

Di tengah arus informasi yang semakin cepat, publik dituntut untuk lebih kritis dalam mendengar. Ketika dihadapkan pada istilah yang terasa terlalu rumit, ada baiknya berhenti sejenak dan mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lebih sederhana.

Sebab pada akhirnya, kenyataan di lapangan hampir selalu lebih jujur daripada kata kata yang digunakan untuk membungkusnya. Ketika bahasa terdengar semakin tinggi, bisa jadi yang sedang terjadi justru sebaliknya. Realitas sedang diturunkan volumenya agar tidak terlalu bising di telinga publik.

  • Bagikan