Kepemimpinan baginya bukan memberi instruksi dari jauh, tetapi bekerja bersama tim. Pesannya sederhana: saya bersama kalian.
Ia membayar upah yang adil, membangun suasana kerja yang saling menghargai, dan memberi pengakuan secara langsung. Ketika masa sulit datang, karyawan tidak meninggalkan perusahaan. Loyalitas tumbuh dari hubungan, bukan sekadar kontrak.
Davis merumuskan pengalaman itu sebagai kepemimpinan berpusat pada manusia. Pengakuan yang bermakna, rasa memiliki, otonomi, dan tantangan yang sehat menjadi fondasi motivasi.
Organisasi yang tahan lama, tulisnya, dibangun bukan hanya oleh strategi yang cerdas, tetapi oleh rasa hormat yang konsisten.
Kepemimpinan yang turun tangan mungkin terlihat sederhana. Namun di sanalah kepercayaan dibangun dan kepercayaan adalah aset paling berharga dalam setiap organisasi.













