LENSAKINI – Selama bertahun-tahun, kinerja tinggi kerap dipersempit maknanya menjadi capaian angka, produktivitas ekstrem, dan citra sukses tanpa cela.
Padahal, di balik narasi populer tentang menjadi yang terbaik, tersembunyi satu fondasi yang sering diabaikan: kejujuran pada diri sendiri.
Andrew D. Thompson, penulis A High-Performing Mind, sampai pada kesimpulan ini bukan dari kemenangan, melainkan dari keruntuhan.
Krisis kesehatan misterius yang hampir merenggut nyawanya memaksanya menghadapi kenyataan paling mendasar: tubuhnya rapuh, pengetahuannya terbatas, dan kendali hidup tidak selalu berada di tangannya.
Dalam kondisi terbaring hingga 22 jam sehari, disiplin atletik yang dulu ia banggakan tak lagi tampil sebagai simbol heroik, melainkan sebagai upaya bertahan yang penuh kegagalan kecil dan ketidakpastian.
Di titik inilah kejujuran menjadi krusial. Thompson tidak menipu dirinya dengan ilusi “baik-baik saja”. Ia mengakui kelemahan, rasa takut, dan keterbatasan, lalu bertindak dari pengakuan itu. Baginya, kinerja tinggi bukan soal tampil kuat, tetapi tentang tetap bertindak sadar ketika segalanya terasa runtuh.
Pelajaran serupa muncul dari kisah masa kecilnya yang tampak sepele: mencuri potongan Lego milik teman. Rasa malu yang dialaminya di depan kelas bukan sekadar trauma, melainkan momen awal pembelajaran tentang integritas.
Thompson menyadari bahwa kebohongan pertama selalu dimulai dari diri sendiri dan dari situlah kemunduran jangka panjang bermula. Kejujuran, dalam konteks ini, bukan nilai moral abstrak, melainkan syarat praktis bagi pertumbuhan.
Prinsip tersebut kembali diuji dalam kisah ikan cupang seharga tujuh dolar yang berusaha ia selamatkan. Hasilnya memang gagal. Ikan itu mati. Namun, Thompson tidak memaknai kegagalan sebagai kegagalan karakter.













