LENSAKINI – Di tengah kegaduhan wacana ekonomi nasional yang masih berkutat pada investasi besar, pertumbuhan angka makro, dan janji kesejahteraan yang sering berhenti di grafik presentasi, Credit Union Keling Kumang justru tumbuh senyap dari wilayah pedalaman dan perlahan membuktikan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari modal besar, melainkan dari nilai yang dijaga secara disiplin dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Koperasi ini lahir pada tahun 1993 dari pertemuan dua belas orang yang secara ekonomi nyaris tak diperhitungkan oleh sistem keuangan formal, namun memiliki satu kekuatan yang sering diabaikan dalam teori ekonomi arus utama, yakni kepercayaan satu sama lain yang dibangun dari relasi sosial yang panjang, kedekatan kultural, dan pengalaman hidup bersama sebagai masyarakat desa.
Modal awal yang terkumpul saat itu hanya berjumlah dua ratus sembilan puluh satu ribu rupiah, angka yang dalam logika perbankan tidak layak dicatat, tetapi justru menjadi fondasi dari sebuah bangunan ekonomi rakyat yang dalam tiga dekade kemudian berkembang menjadi institusi dengan ratusan ribu anggota dan aset mencapai dua koma tiga triliun rupiah.
Pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara instan, apalagi spekulatif, melainkan melalui proses panjang yang menempatkan pendidikan anggota, disiplin organisasi, serta penguatan nilai koperasi sebagai prioritas utama sebelum berbicara tentang ekspansi usaha atau akumulasi modal dalam skala besar.
Dalam fase awal, fokus utama CUKK adalah membangun kepercayaan internal agar setiap anggota memahami bahwa koperasi bukan tempat mencari keuntungan cepat, melainkan ruang bersama untuk saling menopang dalam menghadapi keterbatasan ekonomi, mulai dari akses pembiayaan, pendidikan, hingga kebutuhan dasar keluarga.
Ketika kepercayaan itu menguat dan jumlah anggota bertambah, koperasi mulai memasuki fase penguatan struktur dan jaringan, memperluas pelayanan ke berbagai kecamatan dan kabupaten, serta membangun tata kelola yang transparan dan akuntabel agar pertumbuhan tidak mengorbankan nilai dasar yang menjadi ruh organisasi.
Pada titik tertentu, ketika jaringan sosial dan kepercayaan telah mencapai massa kritis, CUKK mengalami lompatan yang tidak lagi bersifat linier, melainkan transformasional, di mana koperasi kredit berkembang menjadi penggerak ekonomi rakyat dengan berbagai unit usaha yang saling terhubung dan memperkuat satu sama lain.













