LENSAKINI – Pada tahun 1965, sebuah pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat ditembak jatuh di langit Vietnam Utara. Pilotnya selamat dari ledakan, tetapi tak pernah membayangkan bahwa ujian sebenarnya justru baru dimulai ketika kakinya menyentuh tanah.
Nama perwira itu adalah Jim Stockdale, seorang laksamana yang kelak dikenal bukan semata karena pangkatnya, melainkan karena keteguhan mentalnya.
Stockdale ditahan di Penjara Hỏa Lò, tempat yang oleh para tawanan dijuluki “Hanoi Hilton” sebagai bentuk sindiran pahit. Julukan itu terdengar seperti hotel mewah, padahal kenyataannya merupakan ruang sempit, gelap, dan sarat penyiksaan fisik maupun tekanan psikologis.
Selama delapan tahun, sejak 1965 hingga 1973, berbagai bentuk interogasi keras, isolasi, dan pemukulan harus dihadapi tanpa kepastian kapan kebebasan akan datang.
Banyak orang mengira ketahanan lahir dari sikap positif yang terus dipertahankan. Namun pengalaman di balik jeruji justru menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Dalam percakapan bertahun-tahun kemudian dengan Jim Collins, penulis buku Good to Great, Stockdale menyampaikan kalimat yang terdengar sederhana tetapi mengandung kedalaman luar biasa tidak pernah ada keraguan bahwa suatu hari kebebasan akan tiba dan pengalaman pahit itu akan memiliki makna.
Yang mengejutkan, ketika ditanya siapa yang tidak mampu bertahan, jawabannya justru mengarah pada mereka yang terlalu optimis. Para tahanan yang terus menggantungkan harapan pada tanggal tertentu Natal, Paskah, Thanksgiving perlahan runtuh ketika hari-hari itu berlalu tanpa perubahan.
Harapan yang dipatok pada tenggat imajiner berubah menjadi kekecewaan berulang, dan kekecewaan yang menumpuk menggerogoti daya hidup.
Dari sanalah lahir gagasan yang kemudian dikenal sebagai Stockdale Paradox. Intinya bukan menolak harapan, melainkan memadukan dua hal yang tampak bertentangan keyakinan jangka panjang bahwa pada akhirnya akan menang, sekaligus keberanian menatap fakta paling brutal hari ini tanpa menyangkalnya.













