Maag Bukan Stres, Barry Marshall dan Keberanian Menantang Keyakinan Medis Dunia

  • Bagikan
Maag bukan stres Barry Marshall

LENSAKINI – Ilmu pengetahuan sering digambarkan sebagai ruang rasional yang netral, namun sejarah menunjukkan bahwa ilmu juga memiliki kebiasaan buruk mempertahankan keyakinan lama meski bukti baru mulai mengetuk pintu.

Kisah Barry J Marshall adalah contoh terang bagaimana kemapanan ilmiah bisa menjadi tembok paling keras bagi kemajuan.

Selama puluhan tahun dunia medis meyakini bahwa tukak lambung atau maag terutama disebabkan oleh stres gaya hidup dan kepribadian pasien.

Keyakinan ini begitu mapan hingga menjadi dogma. Pasien diminta menenangkan pikiran menghindari makanan tertentu dan bersiap hidup berdampingan dengan penyakit kronis seumur hidup.

Marshall datang membawa gangguan bersama Robin Warren dokter asal Australia ini mengusulkan sesuatu yang terdengar absurd pada zamannya.

Penyebab utama tukak lambung bukan stres melainkan infeksi bakteri Helicobacter pylori. Bagi komunitas medis yang terbiasa mengaitkan maag dengan asam lambung dan tekanan psikologis gagasan ini dianggap mustahil. Lambung dinilai terlalu asam untuk ditinggali makhluk hidup.

Penolakan bukan datang karena kurangnya kecerdasan Marshall melainkan karena kekuatan konsensus. Dalam dunia ilmu keyakinan yang sudah lama bertahan sering kali diperlakukan sebagai kebenaran final.

Fakta bahwa bakteri dapat hidup di lambung bertentangan dengan buku teks kuliah kedokteran. Akibatnya hipotesis Marshall lebih sering ditertawakan daripada diuji secara serius.

Ironisnya bukti awal sebenarnya sudah ada pasien tukak lambung yang diberi antibiotik menunjukkan perbaikan nyata. Namun tanpa mekanisme kausal yang diakui secara luas pendekatan ini dianggap anomali. Bukti klinis kalah pamor dibanding keyakinan teoritis yang telah mapan.

  • Bagikan