Kebuntuan inilah yang mendorong Marshall mengambil langkah ekstrem. Pada tahun 1984 keputusan diambil untuk menelan kultur bakteri Helicobacter pylori dan menjadikan tubuh sendiri sebagai laboratorium.
Tindakan ini bukan sekadar keberanian fisik melainkan pernyataan moral bahwa kebenaran ilmiah pantas diperjuangkan meski berisiko pribadi.
Eksperimen tersebut segera membuahkan hasil dengan Gejala gastritis muncul hanya dalam hitungan hari. Penyakit dapat diobati dengan antibiotik.
Laporan medis yang terbit pada tahun 1985 menjadi bukti kuat bahwa hipotesis yang selama ini dianggap mustahil justru benar. Dari titik inilah pandangan dunia medis mulai bergeser.
Perubahan ini membawa dampak luar biasa tukak lambung tidak lagi diperlakukan sebagai penyakit kronis yang harus dikelola seumur hidup. Penyakit tersebut menjadi kondisi yang dapat disembuhkan.
Jutaan pasien di seluruh dunia terbebas dari penderitaan berkepanjangan hanya karena satu asumsi lama berani digugat.
Kisah Marshall mengajarkan bahwa kemajuan sains tidak selalu lahir dari konsensus melainkan dari keberanian meragukannya. Ilmu tidak berkembang dengan menjaga kenyamanan keyakinan lama melainkan dengan kesediaan menanggung risiko ketika bukti menunjuk arah lain.
Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran yang diberikan pada tahun 2005 kepada Barry Marshall dan Robin Warren bukan sekadar penghargaan atas penemuan medis.
Penghargaan itu adalah pengakuan bahwa keberanian mempertanyakan asumsi sederhana dapat mengubah cara dunia memahami penyakit.
Maag bukan stres, kalimat ini tampak sederhana namun di baliknya tersimpan pelajaran besar. Kebenaran ilmiah tidak tunduk pada mayoritas.













