LENSAKINI – Pada 10 Juli 1989 sebuah pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan 232 lepas landas dari Denver menuju Chicago membawa 285 penumpang. Penerbangan diawali dengan kondisi normal dan terkendali.
Kapten Al Haynes seorang pilot senior yang dikenal tenang dan bersahaja memimpin kokpit dengan rutinitas yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
Sekitar satu jam setelah tinggal landas tepat pukul tiga sore lebih enam belas menit ketenangan itu runtuh. Ledakan keras terdengar dari bagian ekor. Mesin belakang pesawat meledak dan pesawat langsung berguncang hebat lalu miring ke kanan tanpa kendali.
Sesuai prosedur standar kopilot Bill Records mengambil alih kendali. Namun dalam hitungan detik ia menyadari sesuatu yang tidak biasa. Pesawat tidak merespons sama sekali.
Upaya koreksi gagal. Dengan kejujuran yang jarang terdengar dalam situasi genting ia mengakui bahwa ia tidak mampu mengendalikan pesawat.
Kapten Haynes menyatakan dirinya mengambil tanggung jawab penuh. Namun ia pun segera memahami kenyataan pahit. Ledakan tersebut telah memutus seluruh sistem hidrolik utama dan cadangan.
Tanpa hidrolik tidak ada kemudi tidak ada kontrol sayap dan tidak ada cara konvensional untuk menerbangkan pesawat. Ini adalah kegagalan yang hampir mustahil terjadi dengan peluang satu banding satu miliar.
Pesawat DC 10 itu melayang di langit Iowa seperti pesawat kertas yang kehilangan arah. Dalam situasi inilah Haynes melakukan sesuatu yang tidak lazim bagi seorang pemimpin dalam keadaan darurat.
Ia tidak berpura pura tahu, tidak memaksakan wibawa jabatan bahkan menyampaikan kerentanannya kepada seluruh kru dan mengakui bahwa ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara memperbaikinya.
Di kabin penumpang terdapat Denny Fitch seorang instruktur pilot United Airlines yang sedang tidak bertugas. Ia menawarkan bantuan dan dipersilakan masuk ke kokpit.
Pemandangan yang ia saksikan menunjukkan betapa kritisnya situasi. Dua pilot dengan urat tangan menegang berjuang mempertahankan pesawat yang hampir tidak bisa dikendalikan. Fitch menyadari bahwa peluang bertahan sangat kecil.













