Namun alih alih mengambil alih komando Fitch memilih bersikap rendah hati. Ia menempatkan dirinya sebagai pendukung penuh kapten. Ia siap membantu sesuai arahan.
Haynes pun melakukan hal yang sama dengan tidak mempertahankan ego sebagai pemimpin tertinggi. Ia menunjukkan titik kendali yang masih mungkin dimanfaatkan yaitu throttle atau pengatur daya mesin.
Karena seluruh kemudi mati satu satunya cara membelokkan pesawat adalah dengan mengatur perbedaan tenaga mesin kiri dan kanan. Fitch mengambil posisi di antara kursi pilot dan mulai mengelola throttle.
Mereka melakukan sesuatu yang belum pernah diajarkan dalam buku manual. Menerbangkan pesawat besar tanpa kemudi dengan hanya mengandalkan dorongan mesin.
Komunikasi mereka tidak heroik dan tidak dramatis. Tidak ada perintah keras. Yang ada adalah pertukaran singkat pengakuan keterbatasan dan respons cepat terhadap setiap perubahan kecil. Daniel Coyle menyebut pola ini sebagai pemberitahuan yaitu komunikasi jujur yang fokus pada apa yang terjadi saat itu.
Menjelang pendaratan tantangan kembali meningkat. Pesawat mendekati Bandara Sioux City dengan kecepatan dua kali lipat dari normal dan laju turun enam kali lebih cepat.
Rem hampir tidak berfungsi. Sekali lagi Haynes tidak berpura pura tahu. Ia bertanya dan memberi ruang bagi pemikiran bersama. Keputusan diambil secara kolektif dengan tujuan utama menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin.
Saat menyentuh landasan ujung sayap menghantam aspal. Pesawat terpelanting dan terbakar hebat. Kecelakaan itu mengerikan. Namun di balik kehancuran tersebut 185 orang selamat termasuk seluruh kru kokpit. Penyelamatan ini kemudian disebut sebagai keajaiban.













