Mengapa Ilmu Koperasi Terlambat dan Belum Lahir Sampai Sekarang?

  • Bagikan
Ilmu Koperasi

Masalah lain datang dari cara berpikir ekonomi modern yang berpusat pada individu. Teori-teori utama dalam ekonomi dibangun dengan asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional yang bertindak demi kepentingan pribadi dan laba sebesar-besarnya.

Paradigma seperti ini membuat segala bentuk kepemilikan bersama atau keputusan kolektif sulit dipahami dalam kerangka ekonomi arus utama.

Koperasi justru berangkat dari prinsip kebersamaan, musyawarah, dan keadilan distribusi, yang sering dianggap menyimpang dari logika pasar.

Akibatnya, koperasi lebih sering dijadikan bahan studi kasus atau contoh tambahan dalam kuliah kelembagaan, bukan sumber teori ekonomi alternatif yang setara dengan sistem kapitalistik.

Kondisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah politik ekonomi di negeri-negeri bekas jajahan. Pemerintahan kolonial tidak membutuhkan koperasi yang kuat, karena yang diinginkan hanyalah stabilitas dan kelancaran arus sumber daya menuju pusat kekuasaan.

Setelah kemerdekaan, banyak negara hanya mengganti aktor tanpa mengubah struktur ekonomi yang diwariskan. Pembangunan lebih berfokus pada pertumbuhan makro, investasi, dan kebijakan fiskal, sementara ekonomi rakyat berbasis koperasi jarang mendapat ruang untuk menjadi kekuatan utama.

Koperasi kemudian lebih sering dijadikan alat distribusi bantuan, objek pembinaan administratif, atau simbol politik yang mudah dikutip tetapi jarang dipahami secara mendalam.

Dalam posisi seperti itu, koperasi terasa serba canggung. Bagi kalangan pasar, dianggap terlalu radikal karena menolak dominasi pemilik modal bagi ideologi sosialistik yang ortodoks, dianggap terlalu dekat dengan mekanisme pasar karena masih berbicara tentang harga dan efisiensi.

Tidak ada kekuatan besar yang sungguh-sungguh menjadikannya dasar berpikir ekonomi. Akibatnya, koperasi sering dipuji sebagai nilai moral, namun jarang dijadikan fondasi teori ekonomi yang sejajar dengan kapitalisme.

Sistem pendidikan tinggi turut memperkuat keadaan ini. Fakultas ekonomi dan bisnis lebih banyak mengajarkan teori perusahaan, pasar modal, dan manajemen keuangan, sementara koperasi hanya ditempatkan sebagai mata kuliah tambahan.

Hasilnya, dunia akademik melahirkan banyak pengelola koperasi dan aktivis lapangan, tetapi tidak cukup banyak pemikir yang meneliti dan mengembangkan teori koperasi secara serius.

Padahal di banyak negara, koperasi telah membuktikan kemampuan mengelola aset bernilai besar dan menjadi pemain utama di sektor pangan, pertanian, dan keuangan. Praktiknya sudah matang, tetapi landasan teorinya tertinggal jauh.

  • Bagikan