Bukan karena usia bertambah atau jabatan hilang, tetapi karena tidak lagi merasa dibutuhkan. Mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang kembali terlibat, kembali memberi, dan kembali menjadi bagian dari kehidupan orang lain.
Dunia modern terlalu sibuk menilai manusia dari hasil dan angka. Padahal manusia hidup dari relasi dan pengakuan. Tanpa itu, kesehatan mental rapuh meski semua tampak baik-baik saja.
Krisis ini sunyi karena jarang disadari, tetapi dampaknya nyata. Depresi, kecemasan, bahkan keinginan mengakhiri hidup sering berakar dari satu pertanyaan sederhana yang tak terjawab: apakah keberadaan saya penting bagi siapa pun.
Membangun kembali rasa dibutuhkan tidak selalu memerlukan program besar atau kebijakan rumit. Terkadang cukup dengan mendengarkan tanpa menghakimi, memberi kabar lanjutan, menyebut nama, atau mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh.
Di dunia yang sibuk, membuat orang merasa berarti adalah bentuk kepedulian paling mendasar. Ketika rasa dibutuhkan kembali hadir, manusia tidak hanya bertahan, tetapi menemukan alasan untuk hidup dengan utuh.













