Mimbar Surabaya 1926 dan Lahirnya Kepemimpinan Perempuan Islam Indonesia

  • Bagikan
kepemimpinan perempuan Islam Indonesia

Namun keterbatasan itu tidak membendung semangat belajarnya. Nyai Ahmad Dahlan tekun mengaji Al Quran dan mempelajari kitab kitab berbahasa Arab Pegon.

Dari ruang rumah yang sederhana ia membangun fondasi intelektual yang kelak menjadi penopang perannya di ruang publik dan gerakan sosial.

Pernikahannya dengan K H Ahmad Dahlan tidak sekadar membentuk keluarga tetapi juga menyatukan visi perjuangan. Ia menjadi mitra diskusi sekaligus penguat dalam upaya pembaruan pemikiran Islam dan praksis sosial. Dari sinilah benih gerakan perempuan Muhammadiyah tumbuh dan berkembang.

Sejak tahun 1914 Nyai Ahmad Dahlan menggagas pengajian Sopo Tresno sebagai ruang belajar bagi perempuan. Melalui pengajian ini perempuan diajak memahami ajaran Islam yang memuliakan peran mereka sebagai subjek pendidikan keluarga dan masyarakat.

Langkah ini terbilang berani karena menantang budaya yang menempatkan perempuan semata sebagai pengurus rumah tangga.

Ia tidak berhenti pada pengajian. Nyai membuka kursus baca tulis mendirikan layanan sosial bagi anak yatim dan perempuan miskin serta menginisiasi penerbitan bacaan khusus perempuan.

Bersama pengurus Aisyiyah ia berkeliling ke berbagai kota dan pelosok untuk menguatkan jaringan dan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam kemajuan umat.

Salah satu sumbangan pemikirannya yang penting adalah gagasan Catur Pusat Pendidikan. Nyai memandang bahwa pendidikan anak tidak dapat diserahkan pada satu ruang saja. Keluarga sekolah masyarakat dan lingkungan ibadah harus berjalan beriringan.

Masjid tidak hanya menjadi tempat ritual tetapi juga pusat pembentukan akhlak sosial. Rumah menjadi ruang literasi awal. Sekolah mengasah nalar dan masyarakat menjadi ruang praktik nilai nilai kemanusiaan.

Gagasan ini diwujudkan secara konkret melalui pendirian internaat atau asrama putri pada 1918. Para siswi dari berbagai daerah tinggal bersama mengikuti pendidikan formal di siang hari dan pembinaan keagamaan serta keterampilan hidup pada sore dan malam.

Pola ini membentuk perempuan yang mandiri percaya diri dan siap tampil di ruang publik.

  • Bagikan