Mimbar Surabaya 1926 dan Lahirnya Kepemimpinan Perempuan Islam Indonesia

  • Bagikan
kepemimpinan perempuan Islam Indonesia

Perjalanan membesarkan Aisyiyah tidak lepas dari tantangan. Tuduhan melanggar norma kesopanan kerap diarahkan kepada para penggeraknya.

Namun Nyai Ahmad Dahlan tidak membalas dengan polemik. Ia memilih menunjukkan manfaat nyata melalui kerja sosial dan pendidikan. Stigma dijawab dengan pelayanan dan ketekunan.

Kepemimpinannya di mimbar Surabaya pada 1926 bukanlah peristiwa tunggal. Ia merupakan hasil dari proses panjang pembinaan kader penguatan organisasi dan konsistensi nilai.

Media melihatnya sebagai hal yang tidak biasa tetapi bagi Aisyiyah peristiwa itu adalah buah dari kerja yang terencana dan berkelanjutan.

Nyai Ahmad Dahlan wafat pada 31 Mei 1946. Pada 10 November 1971 negara menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Pengakuan itu menegaskan perannya sebagai pelopor kepemimpinan perempuan Islam di Indonesia.

Mimbar Surabaya 1926 kini dikenang sebagai simbol keberanian dan visi jauh ke depan. Di hadapan tantangan zaman Nyai Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah penyimpangan dari ajaran agama melainkan perwujudan nilai keadilan dan kemajuan.

Dari peristiwa itu lahir sebuah pelajaran penting. Kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin tetapi oleh pengetahuan keteladanan dan keberanian mengabdi. Nyai Ahmad Dahlan tidak sekadar memimpin sidang. Ia membuka jalan bagi lahirnya kepemimpinan perempuan Islam Indonesia yang berakar pada ilmu iman dan kerja nyata.

  • Bagikan