LENSAKINI – Tahun 1961 mencatat salah satu momen paling kritis dalam sejarah geopolitik modern. Setelah Fidel Castro mengambil alih kekuasaan di Kuba pada 1959, Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) mulai merencanakan operasi rahasia untuk menggulingkan rezim baru tersebut.
Ketika John F. Kennedy dilantik sebagai Presiden pada Januari 1961, rencana invasi itu sudah matang. Sejak dua tahun sebelumnya, CIA telah merekrut warga Kuba yang hidup di pengasingan dan melatih mereka untuk melancarkan serangan militer ke tanah air mereka sendiri.
Kennedy akhirnya menyetujui rencana itu. Namun sebelum dijalankan, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (US Joint Chiefs of Staff) melakukan evaluasi. Hasil analisis mereka pesimistis: peluang keberhasilan operasi itu hanya sekitar 30 persen.
Masalahnya, angka yang jujur dan dingin ini tidak pernah sampai ke meja Presiden dalam bentuk aslinya. Brigadir Jenderal David Gray, yang bertugas menyusun laporan bagi Kennedy, tidak menuliskan “30 persen”. Ia memilih frasa yang terdengar lebih lembut yakni “a fair chance” peluang yang wajar.
Di sinilah tragedi komunikasi itu bermula. Bagi Jenderal Gray, “peluang yang wajar” berarti tidak terlalu bagus. Namun bagi Kennedy, frasa itu terdengar optimistis yang seolah peluang tersebut cukup kuat untuk dipertaruhkan.













