Pelajaran Kepemimpinan dari Net Lapangan Tenis, Saat Ketenangan Lebih Kuat dari Kekuasaan

  • Bagikan
pengaruh tanpa paksaan

LENSAKINI – Pada akhir 1970-an, dunia tenis menyaksikan pertemuan dua karakter yang nyaris bertolak belakang. Björn Borg tampil sebagai bintang besar yang tenang dan nyaris tanpa ekspresi.

Di seberangnya, John McEnroe hadir sebagai pemain muda berbakat yang juga dikenal karena luapan emosinya di lapangan.

Pada musim panas 1979, seperti ditulis Gerald Marzorati dalam New York Times Magazine, keduanya bertemu untuk ketiga kalinya dalam sebuah turnamen indoor di New Orleans.

Saat itu usia mereka masih sangat muda. Borg berusia 22 tahun, sementara McEnroe baru 20 tahun.

Seperti pertandingan sebelumnya, McEnroe bermain dengan amarah yang menyala. Ia melempar raket, memaki wasit, dan kerap kehilangan kendali. Seusai pertandingan, ia mengakui, “Saya benar-benar terbakar emosi dan jadi kacau.”

Laga tersebut mencapai momen krusial. Skor imbang 5 5 di set ketiga yang menentukan, ketika tiba-tiba Borg memanggil McEnroe ke net. McEnroe menduga ia akan ditegur atau diperingatkan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Borg merangkul bahunya dan dengan suara pelan berkata, “Tidak apa-apa. Santai saja. Tidak apa-apa. Ini pertandingan yang hebat.”

Kalimat itu singkat dan nyaris sepele. Namun dampaknya luar biasa. Tanpa ceramah dan tanpa nasihat panjang, Borg berhasil meredakan simpul kemarahan dan kecemasan McEnroe.

Momen tersebut menjadi titik balik. McEnroe kemudian mengenangnya sebagai saat ketika ia menyadari bahwa selama mereka terus meningkatkan kualitas permainan, ia tidak perlu lagi sibuk memikirkan penonton, hakim garis, atau gangguan lain di luar lapangan.

Ia memenangkan set dan pertandingan itu. Namun perubahan yang terjadi jauh melampaui skor.

  • Bagikan