Pelajaran Kepemimpinan dari Net Lapangan Tenis, Saat Ketenangan Lebih Kuat dari Kekuasaan

  • Bagikan
pengaruh tanpa paksaan

Sejak saat itu, sikap McEnroe terhadap Borg berubah menjadi penuh hormat, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hingga hari ini, ia menyebut Borg sebagai rival yang “hebat”.

Ia tetap McEnroe, tetapi McEnroe yang lebih matang. Cara pandangnya terhadap olahraga dan terhadap dirinya sendiri tidak lagi sama.

Apa yang sebenarnya dilakukan Borg. Ia tidak memaksa. Ia tidak memanipulasi. Ia tidak datang dengan agenda tersembunyi untuk mendidik lawannya tentang sportivitas.

Bahkan, ia nyaris tidak melakukan apa-apa dalam pengertian teknis. Ia hanya hadir sepenuhnya sebagai dirinya sendiri. Fokus, peka, tenang, dan menghargai.

Kata-katanya, nada suaranya, dan bahasa tubuhnya menyatu dengan tepat. Ia tidak terseret oleh badai emosi McEnroe.

Bayangkan jika Borg mengucapkan kalimat yang sama sambil berteriak dari baseline. “TIDAK APA-APA. SANTAI SAJA.” Dampaknya hampir pasti berlawanan. McEnroe mungkin akan semakin meledak.

Atau bayangkan jika Borg merangkulnya lalu menyampaikan ceramah panjang tentang teknik bernapas, etika bermain, dan pentingnya mengendalikan emosi. Gesturnya mungkin tampak benar, tetapi kata-kata dan nadanya akan kehilangan daya.

Dalam situasi seperti ini, ketepatan bukan terletak pada apa yang dikatakan, melainkan bagaimana seseorang hadir.

Banyak orang mampu mengatakan hal yang tepat. Sebagian mampu bertindak selaras dengan kata-kata mereka. Namun hanya sedikit yang mampu benar-benar menjadi pesan itu sendiri.

Otoritas sering disalahartikan sebagai kekuasaan, padahal keduanya berbeda. Kekuasaan adalah kemampuan untuk membuat sesuatu terjadi. Otoritas adalah hak formal untuk memerintah atau memimpin. Keduanya bisa tumpang tindih, tetapi tidak selalu berjalan beriringan.

Seseorang bisa memiliki kekuasaan besar tanpa otoritas. Sebaliknya, pejabat dengan jabatan tinggi bisa memiliki otoritas luas namun minim pengaruh nyata.

Banyak orang memasuki posisi manajerial dengan keyakinan keliru bahwa kini mereka bisa memerintah dan segalanya akan berjalan sesuai kehendak.

Inilah mitos otoritas. Ketika perintah tidak dijalankan, respons yang muncul sering kali eskalatif. Instruksi diperjelas, suara ditinggikan, hukuman mulai dipertimbangkan. Seolah-olah tekanan tambahan akan memperbaiki situasi.

  • Bagikan