Sinopsis buku How Leaders Can Inspire Accountability
LENSAKINI – Dalam setiap krisis selalu muncul dua tipe pemimpin. Tipe pertama sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Tipe kedua memilih bertanya lebih dalam tentang apa yang gagal dan apa peran dirinya dalam kegagalan tersebut.
Perbedaan cara pandang ini menentukan apakah sebuah organisasi akan belajar atau justru terjebak dalam budaya saling menyalahkan.
Menyalahkan orang lain sering kali terasa sebagai jalan tercepat untuk menjaga wibawa. Ketika target tidak tercapai atau kesalahan terjadi menunjuk individu tertentu seolah memberi kesan tegas dan berkuasa.
Namun pemimpin yang kuat memahami bahwa mencari kambing hitam tidak pernah menyelesaikan masalah. Yang terjadi justru sebaliknya kesalahan disembunyikan dan perbaikan menjadi terhambat.
Kisah Jocko Willink mantan komandan Navy SEAL memperlihatkan makna tanggung jawab yang sesungguhnya. Dalam sebuah insiden tembak sesama pasukan di Irak yang menewaskan sekutu dan melukai anggota timnya sendiri Jocko tidak membiarkan situasi berubah menjadi ajang saling tuduh.
Ia menyatakan secara terbuka bahwa tanggung jawab ada pada dirinya sebagai komandan. Sikap ini tidak menghancurkan kariernya. Justru ia memperoleh kepercayaan yang lebih besar dari atasan dan loyalitas penuh dari timnya.
Tanggung jawab menciptakan rasa aman. Ketika pemimpin berhenti menyalahkan orang lain anggota tim tidak lagi bekerja untuk melindungi diri sendiri.
Mereka berani terbuka mengakui kesalahan dan fokus pada solusi. Dari sinilah proses belajar dan perbaikan dapat terjadi secara nyata.
Sebaliknya budaya menyalahkan melahirkan ketakutan. Orang bekerja bukan untuk memperbaiki keadaan melainkan untuk menghindari hukuman.













