Ketika prosedur cuci tangan diwajibkan, angka kematian turun drastis. Secara ilmiah, persoalan selesai akan tetapi secara manusiawi, persoalan justru dimulai.
Temuan itu ditolak, bukan karena bukti yang lemah, melainkan karena maknanya terlalu menyakitkan. Menerima kebenaran berarti mengakui bahwa orang baik, dengan niat baik, bisa menjadi sumber bencana.
Di sinilah ego mengambil alih dengan Citra diri sebagai penyembuh yang kompeten lebih dilindungi daripada nyawa pasien.
Pelajaran ini relevan hingga hari ini dengan banyak pemimpin menolak perubahan bukan karena data tidak masuk akal, melainkan karena perubahan itu menuntut pengakuan bahwa cara lama, yang mereka banggakan, ternyata bermasalah.
Self deception tidak selalu lahir di ruang rapat atau balik meja kekuasaan. Ini sering muncul dalam momen kecil yang sangat pribadi.
Theo, seorang profesional muda, pernah mengalami hal ini ketika ditugaskan ke San Francisco untuk proyek besar, ia merasa dipinggirkan. Kantornya terpisah, bahkan tidak ikut makan bersama tim, dan hari harinya dipenuhi perasaan tidak dihargai.
Dalam pikirannya, ia adalah korban. Orang yang paling berdedikasi, namun disisihkan. Yang luput ia sadari adalah kenyataan sederhana bahwa ia sendiri tidak pernah berusaha mendekat.
profesional muda ini tidak naik ke lantai tempat tim berkumpul. Ia tidak membuka ruang percakapan. Ia memilih menarik diri, lalu menyalahkan orang lain atas jarak yang ia ciptakan sendiri.
Pola yang sama muncul di rumah disuatu malam, anaknya menangis. Theo tahu seharusnya bangun membantu istrinya.
Dorongan nurani itu ada, jelas dan sederhana. Namun ia memilih mengabaikannya. Dalam sekejap, pikirannya bekerja keras membangun pembenaran. Ia lelah. Ia punya rapat penting. Istrinya bisa beristirahat di siang hari.
Keputusan kecil itu tidak berhenti di sana. Agar tetap merasa sebagai suami dan ayah yang baik, realitas pun dipelintir. Istrinya digambarkan sebagai tidak pengertian.
Dirinya sendiri berubah menjadi korban keadaan. Di titik inilah self deception bekerja sempurna. Bukan hanya menutupi kesalahan, tetapi juga membentuk narasi baru agar ego tetap utuh.
Bertahun kemudian, Theo menyaksikan bentuk kepemimpinan yang berbeda ketika bekerja di bawah Gia Chen. Saat Theo melakukan kesalahan serius yang berpotensi merugikan klien besar, ruang rapat dipenuhi ketegangan.
Gia berbicara lebih dulu. Dengan suara tenang gia berkata bahwa kesalahan itu adalah tanggung jawabnya karena tidak memastikan sistem pengawasan berjalan dengan baik. Tidak ada drama. Tidak ada upaya menyelamatkan wajah. Tidak ada pengorbanan bawahan demi citra atasan.
Di situlah perbedaan kepemimpinan terlihat jelas. Pemimpin dengan outward mindset tidak melihat orang lain sebagai alat, ancaman, atau kambing hitam.
Akan tetapi melihat manusia, dengan keterbatasan dan tanggung jawab bersama. Ia tidak membutuhkan orang lain tampak gagal agar dirinya terlihat berhasil.
Kepemimpinan sejati bukan tentang selalu benar, melainkan tentang keberanian untuk jujur terhadap dampak diri sendiri. Ia menuntut kesediaan melepaskan ego, mengakui peran dalam masalah, dan memanusiakan orang lain bukan sebagai objek, tetapi sebagai mitra dalam tujuan bersama.
Dari sinilah kepercayaan tumbuh, dari sinilah konflik mereda dan dari sinilah organisasi bergerak maju, bukan karena pemimpinnya sempurna, tetapi karena cukup berani untuk bertanggung jawab.













