LENSAKINI – Ramadan tinggal menghitung hari dan Di berbagai sudut kota, suasana mulai berubah. Jadwal sahur dibicarakan, menu berbuka direncanakan, dan masjid bersiap menyambut jamaah yang lebih ramai dari biasanya.
Namun di balik atmosfer religius yang kian terasa, puasa sejatinya juga menyimpan dimensi kesehatan yang menarik untuk dicermati.
Puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Praktik ini menghadirkan jeda yang jarang didapat tubuh dalam ritme keseharian modern.
Dalam kondisi normal, sistem pencernaan bekerja hampir tanpa henti mengolah asupan makanan. Ketika Ramadan tiba, pola itu berubah. Tubuh mendapat kesempatan beristirahat, memperbaiki, dan menata ulang keseimbangan metabolisme.
Sejumlah kajian ilmiah menyebutkan bahwa saat berpuasa, organ pencernaan memiliki waktu untuk melakukan proses pemulihan. Produksi enzim dan hormon pencernaan menjadi lebih teratur.
Pada sebagian orang, kondisi ini membantu meredakan keluhan lambung selama pola makan tetap dijaga dengan bijak saat sahur dan berbuka.
Dari sisi metabolik, puasa juga berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Dengan waktu makan yang terbatas, asupan kalori cenderung lebih terkontrol.













