LENSAKINI – Dalam banyak arena persaingan, kemenangan jarang ditentukan semata oleh kemampuan teknis. Faktor yang kerap menjadi pembeda justru muncul saat tekanan memuncak, ketika pikiran diuji lebih keras daripada keterampilan.
Mereka yang mampu menjaga ketenangan pada situasi genting sering kali unggul sebelum persaingan benar-benar mencapai titik akhir.
Dunia catur memberi contoh nyata melalui Bobby Fischer dengan keunggulannya tidak hanya berasal dari ketajaman strategi, tetapi juga dari tekanan psikologis yang melemahkan lawan.
Banyak pecatur papan atas mengakui bahwa keraguan muncul sejak awal pertandingan. Langkah yang terasa aman mendadak dipertanyakan, dan rencana matang runtuh oleh rasa inferior yang tumbuh perlahan.
Psikologi olahraga menjelaskan bahwa kondisi mental sangat memengaruhi performa dari tekanan yang tidak dikelola membuat pikiran menyempit dan tubuh bereaksi berlebihan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di olahraga, tetapi juga dalam dunia kerja, kepemimpinan, dan kehidupan sehari-hari seperti target tinggi, evaluasi, dan konflik sering kali memicu kecemasan yang justru menghambat kemampuan berpikir jernih.
Mental petarung hadir sebagai cara mengelola tekanan, bukan menghindarinya dari pendekatan ini menekankan penguasaan diri, kesadaran terhadap situasi, dan respons yang terukur.













