Viral Tak Selalu Bahagia, Pelajaran dari Celebrity, Michelle Phan, dan Seni Menjeda di Era Digital

  • Bagikan
Viral Tak Selalu Bahagia

LENSAKINI – Sepekan terakhir saya menonton serial Celebrity di Netflix. Drama Korea ini ditulis oleh Kim Yi-young dan disutradarai Kim Cheol-kyu, dibintangi Park Gyu-young bersama Kang Min-hyuk, Lee Chung-ah, Lee Dong-gun, dan Jun Hyo-seong.

Dirilis pada 30 Juni 2023, serial ini terasa dekat dengan kehidupan masa kini, terutama dunia para influencer yang gemerlap di permukaan namun menyimpan tekanan, ambisi, dan skandal di balik layar.

Kisahnya mengikuti perjalanan Seo A-ri, perempuan muda yang masuk ke jagat media sosial demi ketenaran dan uang. Dalam waktu singkat pengikutnya melonjak, tawaran kerja sama datang silih berganti, dan popularitasnya melesat.

Tetapi di balik sorotan dan tepuk tangan digital, muncul tekanan yang semakin berat. A-ri harus terus tampil sempurna, menyesuaikan diri dengan algoritma, dan berlari tanpa henti agar tetap relevan.

Di titik itu, Celebrity terasa seperti cermin yang memantulkan wajah dunia digital kita hari ini, di mana perhatian menjadi mata uang baru dan kelelahan mental menjadi biaya tersembunyi di balik kesuksesan daring.

Cerita itu mengingatkan saya pada kisah nyata Michelle Phan, sosok pelopor kecantikan digital yang menjadi legenda YouTube. Namanya melejit dengan ratusan video dan lebih dari satu miliar penayangan.

Namun pada 2015, di puncak popularitasnya, Michelle memutuskan berhenti sejenak. Ia mengaku lelah setelah satu dekade hidup dalam tekanan untuk terus menciptakan konten baru.

Ia menggambarkan dirinya seperti sopir Uber yang mobilnya adalah kanal YouTube, selama kendaraan itu berjalan uang mengalir, tetapi begitu berhenti pendapatan ikut terhenti.

Analogi sederhana yang menggambarkan betapa rapuhnya kehidupan kreator digital ketika kreativitas berubah menjadi tuntutan konstan untuk selalu hadir di layar.

Kisah Michelle dimuat dalam buku Your Time to Thrive karya Marina Khidekel dan tim editor Thrive Global dengan kata pengantar Arianna Huffington.

Buku ini mengangkat bab khusus berjudul Unplugging and Recharging yang menyoroti pentingnya jeda di tengah budaya “always on”. Pesannya jelas, kesuksesan tidak seharusnya dibayar dengan kelelahan berkepanjangan dan kehilangan arah hidup.

Kita bukan mesin yang diciptakan untuk terus menyala tanpa istirahat. Teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya.

  • Bagikan