LENSAKINI – Malam pertama Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda yakni stelah sidang isbat menetapkan awal puasa, menandai dimulainya bulan suci yang dinanti umat Islam.
Jalanan yang biasanya riuh perlahan berubah khidmat dan di rumah-rumah, keluarga mulai menata niat dan harapan untuk 30 hari ke depan.
Ramadan bukan hanya pergantian bulan dalam kalender Hijriah, ini adalah momentum spiritual, sosial, sekaligus personal. Karena itu, malam pertama menjadi titik awal yang menentukan arah ibadah sebulan penuh.
Ada sejumlah amalan yang patut diprioritaskan agar Ramadan tidak berlalu tanpa makna.
Pertama, meluruskan niat berpuasa. Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat.
Namun esensinya tidak berhenti pada kewajiban formal tetapi niat menjadi fondasi utama. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ditegaskan bahwa setiap amal bergantung pada niatnya.
Malam pertama adalah waktu terbaik untuk meneguhkan komitmen, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh.
Kedua, menghidupkan malam dengan salat tarawih. Ibadah sunah yang menjadi ciri khas Ramadan ini memiliki nilai spiritual dan sosial.
Masjid-masjid kembali penuh, saf-saf dirapatkan, dan ayat-ayat suci dilantunkan. Tarawih bukan hanya tentang jumlah rakaat, tetapi tentang kesungguhan menjaga konsistensi ibadah sejak hari pertama.
Disiplin yang dibangun pada malam pertama kerap menjadi penentu ritme ibadah di hari-hari berikutnya.




