Ketiga, saling memaafkan dan memperbaiki hubungan. Inilah amalan yang paling mudah dilakukan, namun sering terlewat.
Ramadan adalah bulan pembersihan bukan hanya dari dosa kepada Allah, tetapi juga dari kesalahan antar sesama. Menghubungi orang tua, saudara, sahabat, atau rekan kerja untuk meminta dan memberi maaf dapat menjadi langkah awal membersihkan hati.
Beban batin yang dilepaskan pada malam pertama akan memudahkan seseorang menjalani ibadah dengan lebih khusyuk.
Keempat, membaca dan merenungi Al-Qur’an. Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Membuka lembaran kitab suci sejak malam pertama menjadi simbol keseriusan menyambut bulan penuh berkah ini.
Tidak harus langsung mengejar target khatam, tetapi memulai dengan bacaan yang disertai pemahaman dan perenungan. Tradisi tadarus yang hidup di berbagai daerah menjadi bukti kuatnya keterikatan masyarakat dengan Al-Qur’an selama Ramadan.
Kelima, memperbanyak doa dan muhasabah. Malam pertama adalah ruang refleksi dengan momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi perjalanan hidup, menetapkan target ibadah, serta memohon kekuatan agar mampu menjaga konsistensi hingga akhir Ramadan.
Ramadan selalu datang membawa peluang pembaruan, namun keberhasilannya sangat ditentukan oleh langkah awal yang diambil. Dari fondasi itulah kualitas Ramadan dibangun hari demi hari, hingga tiba kembali pada kemenangan Idulfitri.




