LENSAKINI – Ramadan kerap dipahami sebatas kewajiban menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Namun di balik dimensi fisik tersebut, tersimpan kedalaman spiritual yang justru menjadi inti ibadah puasa yakni membangun kedekatan dengan Allah melalui doa.
Hal itu disampaikan pakar eskatologi Islam Ustaz Salas Aly Temur dalam kajian reflektifnya kepada inilah.com, Sabtu (21/2/2026). Ia menegaskan bahwa puasa bukan hanya latihan menahan diri, melainkan proses menghadirkan hati di hadapan Sang Pencipta.
“Ramadan bukan hanya soal menahan diri, tetapi tentang membangun keintiman dengan Allah. Dan jembatan utama menuju itu adalah doa,” ujar Salas.
Menurutnya, pesan tentang sentralnya doa ditegaskan langsung dalam Surah Al-Baqarah ayat 186 yang disisipkan di tengah rangkaian ayat tentang puasa. Penempatan ini, kata dia, bukanlah kebetulan.
“Itu bukan kebetulan. Allah seperti memberi pesan bahwa inti dari puasa bukan hanya menahan lapar, tapi membangun koneksi langsung dengan-Nya,” jelasnya.
Dalam ayat tersebut Allah menegaskan kedekatan-Nya dan janji untuk mengabulkan doa hamba yang memohon. Para ulama, lanjut Salas, memaknai susunan itu sebagai isyarat agar umat Islam memperbanyak doa selama Ramadan.
Dalam perspektif hadis, doa disebut sebagai inti ibadah. Rasulullah SAW juga menyebut ada tiga golongan yang doanya tidak tertolak, salah satunya orang yang berpuasa hingga berbuka. Karena itu, momentum seperti sahur, waktu berbuka, dan sepertiga malam dinilai sebagai waktu-waktu mustajab.
“Setiap detik Ramadhan adalah peluang emas. Jangan ada waktu yang kosong dari doa,” tegasnya.








