Bukan Sekedar Menahan Lapar, Ramadan Adalah Ruang Intim untuk Berdoa

  • Bagikan
Ramadan ruang intim untuk berdoa

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa doa bukan sekadar ucapan lisan. Doa membutuhkan kekhusyukan dan keyakinan penuh, sebagaimana dicontohkan para nabi dalam munajat mereka.

“Itu bukan doa biasa. Itu doa yang lahir dari hati yang penuh keyakinan,” ujarnya.

Salas juga menyebut doa sebagai “senjata kaum muslimin” di tengah berbagai krisis global yang dihadapi umat, termasuk penderitaan yang dialami masyarakat Palestina.

“Doa adalah kekuatan metafisik yang menghubungkan bumi dengan langit. Ia mungkin tak terlihat, tapi dampaknya nyata,” katanya.

Namun ia menegaskan, doa harus berjalan seiring dengan amal saleh. Ramadan tidak cukup diisi dengan munajat, tetapi juga dengan sedekah, menjaga lisan, serta memperkuat kepedulian sosial.

“Doa adalah senjata, tapi amal adalah bahan bakarnya,” tegas Salas.

Menutup refleksinya, ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum kebangkitan spiritual yang nyata, bukan sekadar ritual tahunan.

“Jika kita serius memaksimalkan doa dan amal di bulan ini, maka bukan hanya individu yang berubah, tapi umat bisa bangkit kembali,” pungkasnya.

  • Bagikan