Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas Menghadapi Tuduhan dan Fitnah

  • Bagikan
kisah Saad bin Abi Waqqas menghadapi fitnah

LENSAKINI – Sejarah kepemimpinan selalu menyimpan satu kenyataan yang tidak nyaman: semakin tinggi amanah, semakin besar pula ujian yang menyertainya. Nama besar dan reputasi gemilang tidak otomatis membungkam kritik, bahkan kadang justru mengundang dengki.

Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas di Kufah memperlihatkan betapa fitnah bisa menyasar siapa saja, termasuk sahabat Nabi yang dikenal keberanian dan keteguhannya.

Sa’ad adalah sosok yang tumbuh dalam tempaan dakwah Rasulullah SAW, ikut dalam berbagai peperangan, dan dipercaya memimpin wilayah strategis pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Pengangkatan itu tentu bukan keputusan sembarangan, sebab Umar dikenal tegas dan selektif dalam memilih pejabat.

Namun di Kufah, sebagian warga menyampaikan keluhan yang berujung pada tudingan serius, bahkan sampai pada persoalan tata cara shalat yang dipimpinnya.

Kabar tersebut sampai ke Madinah dan ditanggapi dengan langkah yang mencerminkan kepemimpinan berimbang. Umar memanggil Sa’ad untuk dimintai klarifikasi, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memastikan kebenaran.

Di hadapan khalifah, Sa’ad menyampaikan pembelaan dengan keyakinan penuh bahwa shalat yang dipimpinnya sama seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, tanpa pengurangan sedikit pun.

Penjelasan itu diterima, tetapi proses tidak berhenti pada kepercayaan pribadi. Demi menjaga keadilan dan kepercayaan publik, utusan tetap dikirim ke Kufah untuk menelusuri fakta secara langsung.

Para utusan mendatangi masjid-masjid dan bertanya kepada masyarakat tentang kepemimpinan gubernur mereka. Mayoritas memberikan kesaksian baik hingga akhirnya tiba di satu masjid dari kabilah Bani ‘Abs, tempat seorang pria bernama Usamah bin Qatadah, yang dikenal dengan panggilan Abu Sa’sudah, berdiri dan melontarkan tuduhan berat.

  • Bagikan