Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas Menghadapi Tuduhan dan Fitnah

  • Bagikan
kisah Saad bin Abi Waqqas menghadapi fitnah

Ia menuduh Sa’ad tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang, tidak bijak dalam memutuskan perkara, bahkan tidak turut serta dalam jihad. Tuduhan itu bukan sekadar kritik administratif, melainkan serangan terhadap kehormatan dan integritas.

Menghadapi fitnah di ruang publik bukan perkara ringan, apalagi bagi seorang pemimpin yang reputasinya dipertaruhkan. Namun tidak ada reaksi emosional yang meledak-ledak.

Tidak ada upaya membalas dengan kekuasaan. Sa’ad memilih menyerahkan urusan tersebut kepada Allah dengan doa yang tegas dan spesifik, memohon agar bila tuduhan itu lahir dari kebohongan dan niat pamer, maka pelakunya diberi umur panjang dalam kemiskinan dan dihimpit berbagai fitnah.

Waktu berjalan dan sejarah mencatat konsekuensi yang membuat banyak orang terdiam. Usamah bin Qatadah hidup hingga usia sangat tua dalam keadaan renta dan miskin, bahkan dikenal terjerumus dalam cobaan yang dahulu ia lontarkan sebagai tuduhan.

Setiap kali ditanya tentang keadaannya, pengakuan pahit keluar dari lisannya bahwa dirinya terkena dampak doa Sa’ad.

Kisah ini bukan sekedar cerita tentang balasan atas fitnah, melainkan gambaran tentang ketenangan seorang pemimpin saat diuji. Integritas tidak selalu dibuktikan dengan kemenangan debat, melainkan dengan keyakinan bahwa kebenaran memiliki waktunya sendiri untuk terungkap.

Dalam kepemimpinan, tidak semua orang akan puas, tidak semua suara akan mendukung, tetapi karakter akan selalu berbicara lebih lantang daripada tuduhan.

  • Bagikan